Senin, 26 Desember 2011

KONSELING LINTAS BUDAYA


Psikologi dan konseling lintas budaya
Disusun oleh :
Triyono
09060075
Dosen pembimbing: Yusnetty, S.Pd
Program studi bimbingan konseling
Sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan
(STKIP) PGRI padang Sumatra barat
2011
















1. Bagaimana hakikat budaya dalam konseling lintas budaya ?
Jawab :
Dalam mendefinisikan konseling lintas budaya, kita tidak akan dapat lepas dari istilah konseling dan budaya.
Budaya berarti hasil budi manusia, hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat, yakni alam dan jaman (kodrat dan masyarakat), dalam mana terbukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai bagal rintangan dan kesukaran didalam hidup penghidupannya, guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan, yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Suatu budaya tertentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat tertentu (walau bagaimanapun kecilnya).
Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi).
Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan, motivasi, dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut. (Berdnard & Fullmer ,1969) Dalam pengertian konseling terdapat empat elemen pokok yaitu:
a. Adanya hubungan,
b. Adanya dua individu atau lebih,
c. Adanya proses,
d. Membantu individu dalam mengembangkan potensi yang dimiliki, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
Konseling lintas budaya mempunyai pengertian yaitu suatu hubungan konseling dimana dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar belakang budaya, nilai nilai dan gaya hidup. Maka konseling lintas budaya juga akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan. Karena Kita mengetahuai bahwa antara konselor dan klien pasti mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai-nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda.
Maka konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan budaya. Dalam konseling lintas budaya pasti klien dan konselor mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda dan dalam praktik sehari-hari,pasti konselor akan berhadapan dengan klien yang berbeda latar belakang sosial budayanya. Secara otomatis pasti dalam penanganan konseling juga tidak akan mungkin disamakan (Prayitno, 1994).
Jadi menurut teori atau konsep diatas dapat kita simpulkan bahwasanya hakikat budaya dalam konseling lintas budaya adalah suatu kajian atau yang menjadikan sebuah konseling lintas budaya dapat terjadi seperti kita ketahuai bahwa proses konseling lintas budaya terjadinya antara klien dan konselor yang berbeda budaya seperti kita ketahuai bahwa setiap individu itu unik dimana mereka mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dari keunikanya tersebut maka otomatis kebudayaan klien tidak akan sama dengan kebudayaan kita sehingga dalam penanganan atau proses konseling perlu di terapkan atau menggunakan konseling lintas budaya serta memahami budaya yang di anut atau yang menjadi kebudayaan klien sehingga dalam proses konseling bisa optimal baik dalam penanganan atau hasil dari konseling lintas budaya itu sendiri.
2. Bagaimana anda menggunakan pendekatan etik dan emik dalam konseling lintas budaya?
Jawab :
Etik mengcakup pada temuan-temuan yang tampak konsisten atau tetap di berbagai budaya, dengan kata lain sebuah etik mengacu pada kebenaran atau prinsip yang universal. etik merupakan penggunaan sudut pandang orang luar yang berjarak (dalam hal ini siapa yang mengamati) untuk menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat.
Dalam konseling lintas budaya menggunakan perspektif objektif ini seorang konselor akan menggunakan dua pendekatan kebudayaan yang berbeda terhadap klien. Penggunaan perbedaan kebudayaan dilakukan untuk menunjukkan dimensi dan variabilitas kebudayaan dan untuk menunjukkan bahwa teori-teori komunikasi antar budaya tidak dimaksudkan untuk meneliti perbedaan budaya. Emik Etik Peneliti mempelajari perilaku manusia dari luar kebudayaan objek konseling, konselor menguji banyak kebudayaan dan membandingkan kebudayaan tersebut, Struktur kebudayaan ditemukan sendiri oleh konselor, Struktur diciptakan oleh konselor, Umumnya kriteria-kriteria yang diterapkan ke dalam karakteristik kebudayaan sangat realtif, Kriteria-kriteria kebudayaan bersifat mutlak dan berlaku universal.
Sedangkan emik sebaliknya, mengacu pada temuan-temuan yang tampak berbeda untuk budaya yang berbeda, dengan demikian, sebuah emik mengacu pada kebenaran yang bersifat khas-budaya misalnya, mencoba menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat dengan sudut pandang masyarakat itu sendiri. Pada prinsipnya dalam konseling yang menggunakan perspektif emik maka konselor “menjadikan dirinya” sebagai bagian dari kebudayaan klien, atau dengan kata lain, konselor bertindak sebagai individu penuh karena dia masuk dalam suatu struktur budaya tertentu. proses konseling Pendekatan emikpun sering menyebabkan atau menjadikan konselor menarik kesimpulan tentang suatu budaya tertentu berdasarkan ukuran-ukuran yang berlaku pada kebudayaan klien.
Karena implikasinya pada apa yang kita ketahui sebagai kebenaran, emik dan etik merupakan konsep-kosep yang kuat. Kalau kita tahu sesuatu tentang prilaku manusia dan menganggapnya sebagai kebenaran, dan hal itu adalah suatu etik (alias universal), maka kebenaran sebagaimana kita ketahui itu adalah juga kebenaran bagi semua orang dari budaya apa pun.
Pendekatan emik dalam hal ini memang menawarkan sesuatu yang lebih obyektif. Karena tingkah laku kebudayaan memang sebaiknya dikaji dan dikategorikan menurut pandangan orang yang dikaji itu sendiri, berupa definisi yang diberikan oleh masyarakat yang mengalami peristiwa itu sendiri. Bahwa pengkonsepan seperti itu perlu dilakukan dan ditemukan dengan cara menganalisis proses kognitif masyarakat yang dikaji dan bukan dipaksakan secara etnosentrik, menurut pandangan peneliti.
Jika yang kita ketahui tentang prilaku manusia dan yang kita anggap sebagai kebenaran itu ternyata adalah suatu emik (alias bersifat khas-budaya), maka apa yang kita anggap kebenaran tersebut belum tentu merupakan kebenaran bagi orang dari budaya lain.
Secara sangat sederhana dapat saya simpulkan bahwa emik mengacu pada pandangan konselor terhadap kebudayaan klien, sedangkan etik mengacu pada pandangan konselor terhadap kebudayaan secara keseluruhan dalam proses konseling.
Jadi dengan konsep atau landasan teori maka dalam melakukan proses hubungan konseling dengan klien, maka pendekatan yang akan saya lakukan adalah memahami klien seutuhnya. Memahami klien seutuhnya ini berarti yang harus saya lakukan adalah bisa atau dapat memahami budaya klien secara spesifik yang mempengaruhi klien, memahami keunikan klien dan memahami manusia secara umum atau universal yang sifatnya keseluruhan(Etik). Namun dalam memahami budaya spesifik berarti harus mengerti dan memahami budaya yang dibawa oleh klien sebagai hasil dari sosialisasi dan adaptasi klien dari lingkungannya. Hal ini sangat penting karena setiap klien akan membawa budayanya sendiri sendiri (Etik).
3. Bagaimana konsep diri idependen dan interdependen mempengaruhi kognisi, emosi,dan motivasi ?
Jawab :
Tiap individu membawa dan menggunakan atribut-atribut internal ini dalam mengatur pikiran dan tindakan dalam berbagai situasi sosial yang berbeda. Penjelasan tentang diri dapat di bagi menjadi dua yaitu konsep diri independen dan interdependen yang akan atau dapat mempengaruhi kognisi, emosi dan motivasi
a) Konsep Diri Independen
Orang memiliki berbagai gagasan, premis, atau konsep yang berbeda tentang diri, orang lain, dan hubungan antara diri dan orang lain (Markus & Kitayama, 1991a). Tugas normatif budaya-budaya ini adalah untuk mempertahankan independensi atau kemandirian individu sebagai entitas yang terpisah dan self-contained (terbatas pada diri).
Di masyarakat amerika, banyak orang dibesarkan untuk “menjadi unik”, “mengekspresikan diri”, dan “mewujudkan dan mengaktualisasikan diri yang sesungguhnya”. Banyak dari tugas kultural yang ada dalam budaya Amerika tersebut, saat ini dirancang dan diseleksi, melalui sejarah, untuk mendorong terbentuknya independensi atau ketidak tergantungan masing-masing diri yang terpisah.
Dengan tugas kultural yang seperti itu maka akan memepengaruhi cara pandang diri. Dibawah konsep independen tentang diri ini, individu cenderung memusatkan perhatian pada sifat-sifat internal seperti kemampuan diri, kecerdasan, ciri-ciri kepribadian, tujuan-tujuan, kesukaan, atau sifat-sifat diri, mengekspresikannya di ruang publik dan menandaskan dan mengkonfirmasi sifat-sifat ini secara privat melalui perbandingan sosial.
Diri adalah entitas yang berbatas tegas terpisah jelas dari orang-orang lain yang relevan. Informasi-informasi yang penting yang relevan dengan diri terdiri dari sifat-sifat yang yang dipandang stabil, konstan, dan intrinsik pada diri, seperti kemampuan, tujuan-tujuan, hak-hak, dan sebagainya. Karena itu, sifat-sifat tersebut pasti cukup umum dan abstrak.
b) Konsep Diri Interdependen
Budaya menekankan pada apa yang bisa disebut kesalingterkaitan yang mendasar pada manusia. Tugas normatif utama dalam budaya non-Barat adalah melakukan penyesuaian diri untuk menjadi tepat dan mempertahankan interdependensi diantara individu. Dengan demikian, banyak individu dalam budaya yang dibesarkan untuk menyesuaikan diri dengan orang dalam suatu hubungan atau kelompok, membaca maksud orang lain, menjadi orang yang simpatik, menempati dan menjalani peran yang diberikan pada diri kita, bertindak secara pantas, dan sebagainya. Hal ini adalah tugas budaya yang dirancang dan terseleksi lewat sejarah suatu kelompok budaya untuk mendorong terjadinya interdependensi antara diri dengan orang lain.
Dengan pemahaman tentang diri seperti ini, pengertian orang tentang nilai, kepuasan, atau harga diri mungkin memiliki karakter yang sangat berbeda dengan yang ada di budaya Barat. Harga diri orang dengan pemahan diri yang interdependen akan tergantung terutama pada apakah orang tersebut bisa cocok dan menjadi bagian dari suatu hubungan relevan yang langgeng. Dibawah pemahanan diri seperti ini, individu cenderung terfokus pada status interdependen mereka dengan orang lain dan berusaha memenuhi atau bahkan menciptakan tugas-tugas, kewajiban-kewajiban, dan tanggungjawab sosial. Dengan demikian, aspek paling adalah dalam hubungan-hubungan interpersonal yang tertata rapi dengan orang lain.
Seperti kita ketahuai dalam setiap budaya ada variasi diantara anggotanya dalam hal pemahaman diri yang independen versus yang interdevenden. Orang-orang dari etnis berbeda dalam satu budaya, misalnya, bisa memiliki kecenderungan yang berbeda dalam hal pemahaman diri independen versus interdependen. Pria dan wanita puna pemahaman diri yang berbeda. Bahkan dalam satu kelompok etnis dan gender pun aka nada perbedaan pemahaman diri (Gilligan, 1982; Joseph, Markus, & Tafarodin, 1992). Perbedaan-perbedaan ini juga penting dalam mempelajari perbedaan cultural. Uraian dalam bab ini adalah tentang kecenderungan umum yang terkait dengan pemahaman diri dependen atau interdependen, dengan tetap mengakui adanya keterbatasan representasi dalam kelompok.
Ø Pengaruh konsep diri independen dan interdependen Terhadap:
a. Kognisi
Menurut Matsumoto bahwa pemahaman diri yang berbeda punya konsekuensi terhadap bagaimana kita mempersepsi diri kita. Dengan pengalaman diri yang independen, atribut-atribut internal menjadi informasi paling penting dan paling relevan dengan diri. Atribut-atribut internal ini relatif kurang penting bagi mereka yang memiliki pemahaman diri yang interdependen, yang memikirkan diri lebih dalam konteks tertentu. Sesuai dengan pandangan kita tentang diri yang independen dan interdependen, subjek-subjek Amerika cenderung lebih sering menulis sifat-sifat abstrak dari pada subjek Asia.
Penjelasan sosial. Pemahaman diri juga dapat menjadi “template kognitif” yang mendasari persepsi dan intepretasi terhadap perilaku orang lain. Pada orang-orang dari budaya interdependen kekeliruan dari atribusi ini sepertinya tidak terlalu nampak atau banyak terjadi. Orang-orang dari kebudayaan ini memegang asumsi-asumsi tentang diri yang sangat berbeda dengan yang ada di budaya barat. Pemahaman ini mencakup pengertian bahwa apa yang dilakukan seseorang itu tergantung pada, dan diarahkan atau dipandu oleh faktor-faktor situasional. Dengan adanya pemahaman diri yang interdependensi ini, asumsi paling masuk akal dalam menjelaskan perilaku orang lain adalah bahwa perilaku tersebut banyak dipengaruhi dan diarahkan oleh berbagai faktor yang spesifik situasi.
b. Emosi
Pemahaman diri yang berbeda, memiliki beberapa konsekuensi penting terhadap pengalaman emosional. Emosi lebih banyak dikaji sebagai mekanisme internal yang mempertahankan kondisi homeostatis dan meregulasi perilaku.
1. Konotasi Sosial Emosi
Kiyatama dan Markus (1994) membedakan antara emosi-emosi yang mendorong independensi diri dan emosi yang mendorong interdependensi diri. Emosi-emosi yang terkait dengan konteks sosial (socially engaged emotions) diantaranya yaitu emosi positif yang berasal dari hasil pengalaman menjadi bagian dari suatu hubungan dekat yang kurang lebih bersifat komunal. Contohnya yaitu perasaan bersahabat dan penghargaan. Sedangkan emosi negatif yang biasa muncul akibat kegagalan seseorang untuk berpartisifasi dalam suatu hubungan interdependen, atau karena melakukan sesuatu yang menyakiti hubungan tersebut. Contohnya, merasa berhutang atau rasa bersalah.
Orang-orang dengan pemahaman diri independen akan mengatakan bahwa mereka mengalami dua jenis emosi (positif dan negative), demikian pula dengan orang-orang dengan pemahaman diri interdependen. Yang berbeda adalah pada definisi yang dikaitkan dengan keterikatan dan ketercerabutan serta pada makna dan konsekuensi-konsekuensi sosial emosi tersebut. Orang-orang dengan pemahaman diri interdependen biasanya akan mengalami emosi yang secara sosial berbeda dengan orang-orang berpemahaman diri independen. Emosi-emosi ini akan terasa lebih intens dan lebih terinternalisasi bagi diri yang interdependen daripada untuk diri yang independen, karena emosi-emosi ini memiliki implikasi yang berbeda bagi kedua kelompok pemahaman diri tersebut. .
2. Konotasi Sosial dan Emosi Sosial Asli (Indigenous).
Banyak emosi yang sama secara lintas budaya, banyak juga yang relative unik atau khas pada kebudayaan tertentu (Russell, 1991). Emosi-emosi ini disebut sebagai emosi asli. Sebagai contoh, penelitian dari Lutz (1988) mempelajari emosi masyarakat sebuah atoll Mikronesia bernama Ifaluk menyatakan bawa suatu emosi yang disebut fago merupakan emosi yang amat sentral dalam kebudayaan ini. Fago merupakan kombinasi antara kasih, cinta, dan kesedihan. Emosi ini cenderung mendorong munculnya perilaku menolong dan menciptakan kedekatan hubungan-hubungan interpersonal. Fago adalah emosi yang amat socially engaged.
Bagi orang-orang dengan pemahaman diri interdependen, aspek-aspek diri yang lebih publik dan intersubjectif lebih tereaborasi dalam pengalaman sadar. Bagi penekanan justru adalah aspek-aspek yang lebih pribadi dan subjektif.
Masih ada perbedaan-perbedaan lintas budaya dalam pengalaman emosional. Secara lebih khusus, bukti-bukti yang ada cenderung menyatakan bahwa orang akan mengalami perasaan menyenangkan yang paling umum ini ketika mereka berhasil memenuhi tugas kultural yang terkait dengan independensi atau interdependensi.
Menurut Kitayama, Markus, Kurokawa, dan Negishi (1993) (hasil penelitian di Jepang dan Amerika). Ada beberpa macam emosi yang dilaporkan dalam penelitian ini. Diantaranya yaitu :
· Emosi-emosi yang bersifat generik, seperti merasa tidak tegang, girang, dan tenang.
· Emosi-emosi yang memiliki konotasi sosial yang lebih spesifik. Baik terikat secara sosial (emosi yang socially engaged seperti perasaan bersahabat, hormat), maupun yang tidak terikat (Socially disengaged seperti rasa bangga, superior.
Bagi orang Amerika, emosi positif yang generik terkait terutama dengan pengalaman emosi yang tidak terikat secara sosial. Dengan kata lain, mereka yang mengalami emosi-emosi yang menandakan keberhasilan memenuhi tugas-tugas kultural independen (emosi-emosi yang lepas secara sosial seperti kebanggan) kemungkinan besar akan merasa “secara umum baik/senang.
Pada orang Jepang, pola ini menjadi terbalik. Mereka yang mengalami emosi-emosi yang menandakan keberhasilan memenuhi tugas-tugas kultural independen (emosi-emosi yang terkait secara sosial seperti perasaan-perasaan bersahabat) kemungkinan besar akan merasa secara umum baik/senang.
c. Motivasi
Perbedaan budaya dalam pemahaman diri juga mempengaruhi motivasi. Motivasi seeorang untuk berprestasi atau mencapai sesuatu, untuk berafiliasi, atau untuk mendominasi adalah beberapa di antara cirri diri internal yang paling kentara dan penting cir-ciri yang mengarah dan memberi energi pada prilaku nampak. Dalam motivasi ini, terdapat dua topik yang telah banyak mendapat sorotan penelitian, yaitu: motivasi berprstasi dan motivasi peningkatan diri (self-enhancement) versus pengerdilan diri (self-effecement).
Motivasi berprestasi (achievement motivation) mengacu pada pengertian hasrat akan pencapaian yang unggul, hasrat semacam ini dalam pengertiannya yang luas bisa dijumpai di cukup banyak budaya (Maehr & Nicholls, 1980). Namun dalm literature yang lebih baru, hasrat akan keunggulan dikonseptualisasikan secara lebih spesifik yakni sebagai hasrat yang berakar pada individu atau pribadi, dan tidak berakar secara sosial atau interpersonal.
Dari kerangka yang berbeda, atau dari kerangka pemahaman interindependen, keunggulan dikejar melalui keunggulan-keunggulan sosial yang lebih luas. Bentuk-bentuk motivasi berprestasi yang bersifat sosial ini lebih banyak ditemui pada masyarakat dengan pemahaman diri interindependen. Diri yang interindependen selalu memiliki perhatian penting yang berputar di sekitar kesadaran dan keterikatan atau hubungan diri dengan orang lain.
Dalam pembahasannya tentang kemungkinan ini pada masyarakat Cina, Yang (1982) membedakan antara dua jenis motivasi berprestasi: Berorientasi individu (independen) dan berorientasi soial (interdependen) (cf. Maehr&Nicolls, 1980). Prestasi yang berorientasi individu dipandang sebagai sesuat yang umum terutama di budaya barat(kosep diri independen). Di barat, orang mengejar suatu prestasi atau pencapaian semata demi diri pribadi sedangkan di masyarakat Cina jauh lebih umum ditemukan adalah prestasi atau pencapaian yang bersifat social (interdependen). Pengamatan serupa juga tanpak di sebuah kebudayaan interindependen lain, Jepang. Hasilnya menunjukan bahwa ada hubungan yang dekat antara motivasi berprestasi dengan afiliasi. Baik kajian di Cina maupun di Jepang ini menunjukan bahwa prestasi atau pencapaian erat kaitannya dengan orientasi sosial untuk terhubung dan saling tergantung (interindependen) dengan orang-orang lain yang penting dalam hidup mereka.
4. Jelaskan kaitan budaya dan prilaku bahasa dalam konseling lintas budaya?
Jawab :
Dalam sebuah budaya kita tidak terlepas dari prilaku manusia dimana budaya adalah suatu hasil budhi manusia yang dapat kita lihat dari tampailan prilaku manusia dan bahasa merupakan aspek penting dari prilaku manusia bahasa adalah sarana utama untuk berkomunikasi dengan orang lain dan penyimpan informasi aspek utama dari komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi diantara komunikator(konselor) dan komunikan (klien) yang kebudayaannya berbeda. Bahasa juga merupakan sarana utama dalam pewarisan budaya dari satu generasi pada kegenerasi berikutnya. Kita ketahuai tanpa komunikasi atau bahasa budaya tidak akan ada oleh karana itu kita sebagai seorang konselor harus mempelajari bahasa dan mengetahuai kaitan budaya dan prilaku bahasa dalam konseling lintas budaya.
Dalam hal ini menurut saya kaitan budaya dan prilaku bahasa adalah dalam Budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, serta menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada budaya yang berbeda dengan orang lain, seberapapun kecilnya perbedaan itu. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalah pahaman.
Jika kita kaitkan dalam konseling lintas budaya Akibat dari kesalahpahaman ini otomatis akan mempengaruhi proses konseling lintas budaya. Jadi budaya sangat mempengaruhi prilaku bahasa karena budaya menentukan cara berkomunikasi yang sangat di pengaruhi oleh bahasa sehingga dalam berkomunikasi lintas budaya pasti dalam berkomunikasi kita akan berbeda dengan orng lain walaupun kecil perbedaannya. Ekspresi budaya dalam berkomunikasi setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancer atau menimbulkan ketidaknyamanan sehingga proses konseling lintas budaya tidak efektif.
5. Bagaimana emosi dapat membentuk dalam sebuah budaya dan jelaskan dampaknya terhadap pelaksanaan konseling lintas budaya ?
Jawab :
Sepreti kita ketahui bahwa budaya adalah suatu hasil budhi manusia mengekspresikan emosinya dalam berinteraksi adalah Salah satu komponen penting dalam interaksi antar individu adalah emosi, dan melalui interaksi itu pun individu mengekspresikan emosinya emosi juga member warna pada hidup, menjadikannya hidup penuh makna pengalaman emosi juga dapat menjadi motivator penting bagi prilaku manusia. Ekspresi emosi juga penting dalam komunikasi seprti yang sudah di singgung tadi serta emosi memainkan pern penting dalam interaksi sosial. Emosi merupakan bagian dari interaksi individu yang merefleksikan hubungan fungsional antara individu dan lingkungannya. Emosi yang timbul dalam kehidupan sehari–hari tersebut terbentuk oleh konteks budaya dimana emosi tersebut muncul, sehingga perbedaan budaya dapat mempengaruhi emosi. Perbedaan budaya dalam emosi tersebut dapat berbeda dalam hal penilaian terhadap situasi, pengekspresian emosi, dan bagaimana emosi diatur dalam sebuah kehidupan sosial. Setiap budaya memiliki prinsip budaya dasar yang berisi nilai-nilai yang dianggap penting oleh suatu budaya. Nilai-nilai sosial tersebut berperan dalam pengaturan tampilan emosi atau ekspresi wajah dalam masyarakat budaya tertentu. Damapak tehap konseling lintas budaya adalah dengan pemahaman budaya yang berbeda maka pelayanan konseling lintas budaya harus berbeda dan kita bisa memahami konsep emosi yang ada dalam sebuah budaya. Bagaimanapun kita dalam konseling lintas budaya perlu mempertimbangkan pengaruh kebudayaan pada emosi yang dia anut atau di opahami klien dalam konseling.
DAFTAR PUSTAKA
Alex Sobur. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Elly. M. Setiadi. Dkk. 2007. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Matsumoto, D. 2008. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta : pustaka pelajar
Yusuf, Yusmar. 1991. Psikologi Antar Budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=k&id=124300

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar